Senin, 19 Maret 2012

introduce myself


assalamualaikum wrwb ..

my name is umi laelatussofiah  , I am a child of my parents and mother Aisha alm.bapak Endang.S. .....
I am the second of three brothers. my sister was married and he already has three children. so I've called auntie
I was born in a village, the village sidaharja, precisely in the district pamarican ciamis district, western Java.
I am now a student at the Islamic University of Indonesia majoring in environmental engineering yogjakarta. faculty of civil engineering and planning.
why I wear the name of pigeons, because I love that animal....
More

Dalam keyakinan saya pada Alloh SWT, sang pencipta, saya sering merenung, akan apa yang diciptakannya. Sebisa mungkin mengambil hikmah hidup darinya, bercermin dan belajar memahaminya, secara mendalam, sebisa akal menjangkaunya. Salah satu dari cernaan itu adalah kemauan untuk belajar filsafat hidup, dari makhluk ciptaan lainnya, yang hidup disekitar kita. Kali ini yang bisa kita jadikan cermin untuk dipelajari dan dipetik hikmahnya adalah Burung MERPATI.

Dalam banyak hal, merpati sering dijadikan simbol, baik perdamaian, kesetiaan juga kesucian. Ada pertanyaan mengapa demikian. Hal ini lebih dikarenakan merpati memiliki tiga sifat dasar yang sangat patut dicontoh, atau dipelajari oleh manusia, agar menjadi manusia yang berakhlak dan bermoral, menghormati hak dan wilayah pemilikan, orang lain atas kepunyaan mereka. Diantaranya adalah sbb:

 Merpati tidak sudi, menyaksikan pertumpahan darah dan kekerasan juga kematian. Jika seseorang memelihara merpati, maka sebelum kematian menjemputnya, merpati telah lebih dahulu meninggalkan sarangnya. Ketika jaman pertempuran antara Jepang dengan Sekutu, burung merpati yang jumlahnya ribuan ekor, yang menghuni rumah, pohon mangga, plafon, berterbangan pergi, tanpa seekorpun yang tertinggal, ternyata dua hari kemudian pasukan Jepang membombardir kota Ambon, dengan bom dari udara, sehingga berjatuhan banyak korban, termasuk pohon mangga tempat mereka biasa berteduh.

Inilah sekilas perenungan dalam memahami filsafat hidup makhluk, di sekitar kita. Alangkah indahnya hidup yang disertai prinsip merpati, dimana kesetiaan dan anti kekerasan bersemayam dalam jiwa kita. Semoga saya tidak keliru dalam memahami ini.(*)

 tidak hanya itu, saya pernah membaca di sebuah tulisan bahwa kita sebagai makhluk alloh yang sempurna harus juga melihat dan bertasbih kepada alloh dengan mempelajari ciptaannya....

Belajar dari Merpati

DI TENGAH kesibukannya sebagai Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi (Infokom) Pemerintah Kota Semarang, ternyata Drs Masrohan Bahri MM memiliki kesibukan sampingan yakni memelihara burung merpati.
Tidak percaya? Datang saja ke rumahnya di Jl Candi Kencana Raya E 49 Semarang. Sedikitnya ada 20 pasang burung merpati yang berada di rumah tinggalnya, dan dia memberi tempat khusus untuk binatang kesayangannya itu
Bapak dua anak ini, mengaku menyukai merpati karena kebiasaan burung tersebut memiliki filosofi yang patut ditiru. Di antaranya, merpati menyukai bersaing dengan sesama namun mengacu pada kualitas diri. Misalnya, ketika terbang, mereka lebih tertarik ada persaingan tanpa saling menjatuhkan. Kemudian ketika mencari makan, mereka tidak mengusir teman lain yang juga sedang makan.
Namun demikian, jika kehormatan mereka disepelekan, akan ada reaksi keras. Seperti ketika rumah mereka dimasuki merpati lain, pasti akan ada perseteruan. Dan yang menarik, perseteruan itu hanya di ruang tersebut, tidak berlaku ketika sedang makan atau sedang terbang.
''Saya melihat semangat itu dimiliki merpati,'' paparnya sembari memberi makan burung kesukaannya.
Suami Inayati ini menuturkan, jika manusia mempelajari alam atau kehidupan lain seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, maka dapat menarik hikmah mendalam. Berbagi burung memiliki jam terbang cukup tinggi, tetapi mereka tetap menjalankan hidup dengan manajemen yang disiplin. Mereka bisa membagi antara waktu untuk bekerja, istirahat, dan waktu untuk keluarga. ''Lihat saja, sulit menemukan burung yang tidak pulang ke rumahnya, terutama ketika mereka sedang punya momongan. Sulit pula menemukan burung yang tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan anaknya,'' papar mantan Camat Karta Semaya dan Karangampel Kabupaten Indramayu sembari tersenyum.
Mantan Kabag Humas Kabupaten Indramayu itu menambahkan, kalau burung saja memiliki tanggung jawab seperti itu, mengapa manusia tidak berbuat yang lebih. ''Rasanya malu kalau kita manusia kalah dengan hewan.'' (Hasan Hamid-45)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar